Sang Hyang Temboro, Sosok yang Jarang Dibahas dalam Tradisi Nusantara
Sang Hyang Temboro, Sosok yang Jarang Dibahas dalam Tradisi Nusantara

Sang Hyang Temboro, Sosok yang Jarang Dibahas dalam Tradisi Nusantara

Kalau kita berbicara tentang dewa dewi, terutama dalam tradisi Nusantara, kebanyakan orang akan langsung ke Batara Guru, Sang Hyang Semar, atau Batara Kala. Padahal ya, masih banyak tokoh (atau entitas) lain yang keberadaannya tercatat dalam berbagai tradisi dan naskah lokal, tetapi memang jarang dikenal masyarakat secara umum. Salah satunya adalah Sang Hyang Temboro.

Sang Hyang Temboro, nama ini memang tidak populer seperti tokoh-tokoh utama dalam kisah pewayangan. Bahkan penyebutannya juga tidak selalu sama, ini normal sih, karena memang tradisi lisan banyak penyesuaian kata. Beberapa tradisi menggunakan nama Sang Hyang Temboro, sumber lain ada yang menyebutnya sebagai Batara Temboro atau Bathara Temboro, ada juga Batara Temburu. Penggunaan gelar seperti Sang Hyang, Batara, atau Bhatara juga bergantung pada naskah, daerah, maupun kebiasaan penyebutan masyarakat, jadi masih bisa dimaklumi. FYI istilah Batara merujuk ke gelar kehormatan bagi dewa atau sosok yang dimuliakan dalam tradisi Hindu Nusantara.

ilustrasi Sang Hyang Temboro

Menelisik dalam tradisi wayang Jawa, Bathara Temboro dikenal sebagai salah satu putra Sang Hyang Ismaya (Semar) bersama saudara-saudaranya. Karakternya digambarkan memiliki sifat jenaka dan pandai menghibur. Agak berbeda dengan banyak dewa laki=laki yang identik dengan peperangan atau kekuasaan, Temboro lebih dikenal sebagai sosok yang mampu mencairkan suasana dan mengangkat semangat. Dalam beberapa sumber pewayangan bahkan disebut sebagai dewa yang sering menjadi penghibur Batara Guru ketika menghadapi persoalan di kahyangan.

Jika dilihat dari sudut pandang supranatural, Entitas Betara ini menunjukkan kebijaksanaan, kemampuan menjaga suasana, mengurangi ketegangan, dan menghadirkan kegembiraan. Artinya bila memanfaatkan energi yang terpancar entah itu dengan path working, patron ataupun blessing bisa membantu dalam hal tersebut.

ilustrasi kitab-kitab jawa kuno

Sejauh ini yang berhasil dicoba adalah membantu dalam pengelolaan pikiran. Walaupun berada dalam kondisi tertekan, energi yang diasosiasikan dengan Sang Hyang Temboro bisa membantu melihat situasi dengan sudut pandang yang lebih luas. Ini bukan menghilangkan masalah ya, lebih ke mengurangi beban mental yang muncul akibat cara kita memandang masalah tersebut, entah terlalu sempit, terlalu ego, dan sebagainya. Efek yang paling terasa berupa suasana hati yang lebih tenang, bisa menemukan sisi positif dari suatu keadaan, nerimo semisalnya memang tidak bisa diubah, dan tidak terlalu larut.

Untuk yang belum tau, tuah dari pengelolaan pikiran ini bisa di explore mendalam ya. Tidak hanya dari tokoh ini, bisa darimana saja. Karena jika pikiran tenang atau terkelola dengan baik, keputusan kita, strategi yg disusun, serta langkah yang diambil bisa terukur dan tidak sembrono. Ini termasuk semua aspek duniawi dan supranatural, jadi memang ‘tuah core’ atau tuah inti. Tinggal bagaimana praktisi memperdalam saja.

*catatan
Karena sumber mengenai Sang Hyang Temboro tidak sebanyak tokoh-tokoh lainnya, penafsirannya juga cukup beragam. Itulah sebabnya artikel ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan satu versi sebagai yang paling benar. Keberagaman sumber tersebut menunjukkan bahwa tradisi Nusantara menyimpan banyak tokoh lokal yang belum banyak dikaji. Mengenal mereka juga bisa menambah pengetahuan tentang mitologi, serta membantu kita memahami bagaimana masyarakat terdahulu menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *