Belajar Tanpa Guru: Tentang Otonomi dalam Laku (bukan puisi)
Belajar Tanpa Guru: Tentang Otonomi dalam Laku (bukan puisi)

Belajar Tanpa Guru: Tentang Otonomi dalam Laku (bukan puisi)

Para tetua dulu tidak banyak bicara soal siapa guru paling tinggi, atau siapa murid paling cepat.
Yang mereka ingatkan justru yang paling sederhana: jangan sampai berguru, tapi lupa berjalan.

Sebab jika berguru itu ada adabnya.
Jika belajar itu adalah bentuk ikhtiar.
Maka laku tetap harus dijalani oleh diri sendiri, dengan segala ragu, salah, bahkan jatuh bangunnya.

Guru yang baik bukan yang membuat murid merasa kecil.
Guru yang baik justru yang membuat murid berani menapaki jalannya sendiri, tanpa kehilangan arah, tanpa meninggalkan tata krama.

Dalam perjalanan, banyak hal tidak bisa dipindahkan lewat kata. Tidak berpindah lewat nasihat. Tidak pula menempel lewat wejangan. Hanya hadir saat dijalani. Rasa yang muncul dari perjalanan itu tidak bisa diwakilkan, bahkan oleh guru sekalipun.

Makanya jangan tergesa mencari pegangan, sampai lupa merasakan langkah sendiri.

Hormati guru.
Tundukkan hati.
Namun jangan matikan semangat mencoba, karena laku yang tidak dijalani hanya akan tinggal sebagai cerita.
Adab itu bukan berarti menyerahkan kesadaran. Patuh juga bukan berarti berhenti belajar dari pengalaman sendiri.

Ilmu-ilmu itu tidak selalu datang sekaligus.
Beberapa hadir sedikit demi sedikit, kadang justru muncul setelah lelah dan kecewa.
Petunjukpun tidak selalu datang sebelum melangkah, sering kali ia baru terlihat setelah kita berani berjalan, bahkan saat sudah dekat dengan tujuan.

Karena yang namanya tanggung jawab tidak pernah berpindah tangan. Tetap berada pada mereka yang menjalani, yang berani menanggung salah, dan mau memperbaiki diri di tengah jalan.

Belajar boleh berguru.
Namun berjalan tetap harus dengan kaki sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *